Pasuruan,  Tribunusantara.com - Bupati Pasuruan, HM Irsyad Yusuf melakukan Panen Raya Petik Merah Kopi, di Dusun Jeruk, Kelurahan Ledug, Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan Selasa (6/9/16). Panen tersebut sekaligus dijadikan momen untuk terus mempopulerkan kopi khas Kabupaten Pasuruan  alias Kapiten Pasuruan.

Selain Bupati Irsyad, panen raya tersebut juga dilakukan Wakil Bupati, Riang Kulup Prayudha, Kapolres Pasuruan, AKBP Muhammad Aldian, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan, Andri Wahyudi, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan, Yetty Purwaningsih dan beberapa Kepala SKPD dan Camat terkait, serta Bambang Sriyatno selaku Ketua Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APEKI) Jawa Timur.

Menurut Irsyad, potensi perkebunan kopi di Kabupaten Pasuruan terus mengalami perkembangan pesat. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin luasnya areal perkebunan kopi yang tersebar di 8 kecamatan, yakni Kecamatan Tutur, Purwodadi, Pasrepan, Lumbang, Puspo, Prigen, Purwosari serta Kecamatan Tosari.

Saya yakin bahwa kopi Kabupaten Pasuruan akan menjadi kopi nomer satu di dunia, karena sampai sejauh ini banyak kopi-kopi kita yang sudah diekspor baik di negara eropa, asia timur, hingga di Amerika,” kata Irsyad sembari memetik merah kopi, bersama dengan para pejabat Pemkab Pasuruan lainnya.

Irsyad menambahkan, total luas areal perkebunan kopi di Kabupaten Pasuruan mencapai 4362 hektar, di mana seluruh petani mampu memproduksi sebanyak 1222,43 ton dalam bentuk biji ose, atau rata-rata seberat 532,13 kilogram ose/hektar. Bahkan, secara kuantitas dan kualitas, produksi kopi yang dihasilkan masih bisa ditingkatkan lagi, mengingat agroekosistem dan agrowilayah sangat mendukung. Begitu juga dengan komoditas kopi, Pemkab Pasuruan telah melakukan banyak pembangunan, seperti program pengembangan, rehabilitasi, diversifikasi, dan penanganan pasca panen yang diwujudkan melalui pemberian bantuan bibit kopi, mesin pengolah kopi, dan alat pengemas kopi.

Pokoknya saya mentargetkan bahwa Kapiten Pasuruan ini akan mendunia dan menjadi nomor paling wahid. Selain cita rasa yang begitu berbeda, kopi ini banyak tersebar di 8 Kecamatan, jadi tidak khawatir akan kehabisan,” jelasnya.

Dengan adanya panan raya petik merah kopi, Irsyad berharap agar para petani dapat meningkatkan kebersamaan antar petani se-Kabupaten Pasuruan, sehingga mampu bersaing di pasar global, serta meningkatkan pola kemitraan bisnis yang saling menguntungkan dengan pihak lain.

Saya berharap kepada para petani kopi agar dapat mendukung dan berperan aktif dalam meningkatkan produksi kopi di Kabupaten Pasuruan, mengingat kebutuhan pasar kopi di dunia terus bertambah. Dan saya doakan agar seluruh petani kopi di Kabupaten Pasuruan hidup sejahtera dan kopi nya semakin laris, karena mantap sekali,” ungkapnya.

Sementara itu, panen kopi yang dilakukan saat petik merah memiliki nilai tambah bila dibanding dengan petik hijau. Dijelaskan Yetty Purwaningsih selaku Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pasuruan, dari sisi kualitas, produksi petik merah kopi mempunyai kandungan air lebih rendah daripada petik hijau. Sedangkan dari sisi ekonomi, harga glondong kopi petik merah lebih tinggi bila dibanding glondong petik hijau.

Petik merah kopi akan menghasilkan aroma dan cita rasa yang begitu menonjol. Selain itu, karena harganya lebih mahal bila dibanding dengan petik merah hijau, jelas berdampak pada peningkatan pendapatan petani kopi itu sendiri,” ungkap Yetty, sesaat setelah panen selesai dilakukan.

Oleh karenanya, saat ini pihaknya tengah melakukan sosialisasi petik merah kopi, kepada seluruh petani kopi di Kabupaten Pasuruan.

Harapannya, tidak akan ada lagi petani yang melakukan petik hijau kopi.
Mungkin masih ada petani yang memetik hijau kopi, tapi kami tidak akan pernah berhenti untuk menghimbau petani agar memetik kopi saat benar-benar berwarna merah,” tegasnya.

Di sisi lain, acara panan raya petik merah kopi tersebut didahului dengan lomba racik kopi antar kelompok tani, serta pameran hasil produk kopi kelompok tani dari 8 kecamatan penghasil kopi. (Abdullah)