KEDIRI- Tiga tokoh sentral dalam torehan sejarah bangsa Indonesia, dikemas melalui Drama Kolosal dalam rangka memperingati HUT TNI ke-71 yang berlangsung di Stadion Brawijaya Kota Kediri. Kesuksesan perhelatan drama kolosal ini, tidak lepas dari 240 pemeran yang dilibatkan, terdiri dari 120 siswa/siswi setingkat SLTA sederajat, 60 santriawan/santriwati, 20 mahasiswa perguruan tinggi, 20 anggota TNI, 10 anggota Polri serta 10 anggota Satpol PP Kota Kediri, ikut ambil bagian didalamnya, Rabu (05/10/2016).
 
Setting drama kolosal diarahkan ketika negeri ini pada posisi berusaha meraih kemerdekaan hingga upaya menjaga kedaulatannya pasca dicetuskannya Proklamasi. Dengan mengambil judul "Perjuangan Macan Jawa" yang ditulis langsung Agus Budianto atau yang lebih dikenal Agus Gondrong, drama kolosal tersebut melibatkan 240 orang ini, yang terbagi dalam beberapa peran, dari beberapa chapter, dan tokoh yang ditonjolkan pada drama tersebut, lebih mengedepankan sosok pahlawan nasional, seperti Jenderal Sudirman, dr.Mustopo, dan Bung Tomo.
 
Dari sekian ribu penonton yang hadir di Stadion Brawijaya, terlihat dideretan kursi kehormatan, Danrem 082/CPYJ, Kolonel Kav Gathut Setyo Utomo, Dandim 0809/Kediri Letkol Inf. Purnomosidi, Kapolresta Kediri, AKBP Wibowo, Wakil Walikota Kediri, Hj. Lilik Muhibah, Ketua DPRD Kota Kediri, Kolifi Yunon. Selain itu, beberapa anggota LVRI, Pepabri, pengurus PAUB / FKUB, juga nampak menikmati sajian drama kolosal yang berlangsung cukup meriah ini.
 
Dari sisi cerita, secara keseluruhan berdasarkan fakta sejarah yang pada umumnya juga termuat dalam buku-buku pelajaran sekolah, kendati ada beberapa chapter yang didramatisir, agar tontonan ini menjadi lebih menarik. Seiring dengan berjalannya waktu, usai drama kolosal, aplaus dari ribuan penonton yang berada di Stadion Brawijaya, meramaikan suasana HUT TNI ini, dan sekaligus menjadikan momentum tahunan ini semakin akrab dimata masyarakat Kediri.
 
Selain drama kolosal, pameran alutsista juga digelar diseputaran Stadion Brawijaya, dan masyarakat juga diperkenankan untuk memegang atau melihat maupun berfoto selfie. Semuanya itu ditunjukkan untuk membuktikan kemampuan strategis kekuatan militer negeri ini, sekaligus juga memberikan image positif atas kondisi alutsista yang ada saat ini. (Penrem 082/CPYJ)