Pasuruan, Tribunusantara.com – Desa Manikrejo keberadaannya serupa dengan desa-desa lainnya yang ada di sekitarnya. Ada yang tidak disangka-sangka. Ternyata Desa Manikrejo menyimpan misteri besar. Lahirnya desa ini berkaitan erat dengan sebuah kerajaan besar yang ada di Tanah Jawa. Cerita adanya Desa Manikrejo berasal dari munculnya sebuah sendang (sumber mata air) yang konon ceritanya menjadi tempat pemandian seorang putri ratu.

Sendang Manik dulu berukuran besar dengan air yang sangat jernih. Makanya tidak heran kalau dulu keberadaan sendang ini dijadikan tempat peristirahatan sekaligus tempat mandinya para keluarga Kerajaan Porangan. Seiring perjalanan waktu, kini sendang tersebut mengecil. “Kedalamannya sulit diukur. Saat saya memasukkan bambu sepanjang 8 meter ke dalam sendang, masih saja masuk dan tidak menyentuh dasar sendang,” ungkap Eyang Yono, pemerhati budaya dan sejarah asal Kota Pasuruan.

Menurut Nenek Sum sesuai dari cerita nenek-neneknya, sumber mata air di sendang ini mempunyai garis searah dengan berbagai sumber mata air yang ada di beberapa daerah. Diantaranya, sumber sendang bertautan dengan sumber air Umbulan (Winongan), sumber mata air Banyubiru (Winongan), sumber mata air Sendang Mbah Poh (Puspo), Sumber Mata Air Ranu Grati (Grati) dan sumber air Desa Porong, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Tutur Mbah Sum, sumber air Sendang Manik ini berhubungan langsung dengan Sendang Biru di Malang Selatan. “Sumber Sendang Manik ini tembus ke pantai-pantai di sepanjang Jawa. Baik pantai selatan maupun pantai utara,” tutur Mbah Sum sembari menunjukkan posisi lubang sumber. Di atas sumber inilah ada bekas sesajen dan bekas bakaran dupa.  

Sendang berukuran 8 x 12 meter dan 10 x 20 meter membentuk angka 10. Sendang tersebut dikelilingi sekitar 23 pohon gayam berdiameter rata-rata 1meteran. Kemudian ada 1 pohon asam besar berdiameter kira-kira 2 meteran. Pohon asam ini terdapat lubang besar di pangkal. Lubang inilah yang biasa digunakan untuk semedi, bertapa dan memasang sesajen. Hari tertentu sendang ini dipenuhi oleh pengunjung untuk mencari berkah. Yaitu, malam Jumat legi, Selasa Pon dan weton Jawa.

Yang menarik, dari cerita masyarakat setempat, di sendang itu sering muncul mahluk jadi-jadian. Terkadang berwujud ular besar, harimau dan binatang lainnya. Biasanya mahluk ini hanya menampakkan diri dan tidak berulah atau jahil terhadap manusia. Umum penampakan terjadi setelah Maghrib atau menjelang Maghrib pada hari-hari tertentu tadi.

Kisah misteri lain yang diperoleh tim tribunusantara.com saat  di lokasi sendang adalah seorang warga yang senang memancing ikan. Setelah berjam-jam tidak  memperoleh ikan sama sekali. Menjelang subuh, mendadak pancingnya disantap ikan. Setelah diangkat ternyata seekor udang. Setelah pulang ikan ini dimasak. Saat digoreng, udang tadi tidak matang-matang. Padahal ikan tadi sudah direbus lebih dulu agar lunak.

“Lho yang membuat terkejut, udang tersebut masih hidup,” papar Mbah Sum. Disaat binggung itulah pemancing ini mendengar suara sayup-sayup yang seakan membisikkannya di telinga. Suara itu memerintahkan supaya segera  mengembalikan udang itu ke Sendang Manik. Suara setengah berbisik di telinga pemancing tadi juga mengancam kalau sampai udang itu tidak dikembalikan maka seluruh desa akan diteggelamkan. “Desa Manikrejo akan dijadikan laut,” cerita Mbah Sum. Keesokan harinya udang tersebut dikembalikan lagi ke Sendang Manik. (nugroho)