Pasuruan, tribunus-antara.com -   Mutiha (55) tahun warga Dusun Salaran Desa Rebalas Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan merupakan sosok wanita yang memiliki semangat hidup tinggi. Betapa tidak, dirinya sebagai buruh tani harian sang suami pergi meninggalkan dirinya dengan 6 orang anak saat itu. Kini ke enam anaknya pun tak bersama dirinya, Mutiha tetap tegar.


Menyendiri dan tinggal di rumah yang lebih pantas disebut gubug itu, Mutiha hidup dari bantuan tetangga sekitarnya untuk makan, walauppun disaat tertentu dirinya kadang bekerja sebagai buruh tani. Dinding rumah dari anyaman bambu (gedeg: Bahasa Jawa)menutup sekedarnya. Nampak tungku terbuat dari tanah yang digunakan untuk merebus air atau memasak mie instan. Atap rumahnya sering bocor dan ditutup plastik, namun masih saja bocor dan air menggenangi rumah.

Dalam keaadaan lanjut usia tubuh Mutiha masih nampak sehat dan bisa berjalan walau sambil membungkuk. Wajahnya yang keriput menandakan usianya hampir berkepala enam dirinya masih bisa bekerja sebagai buruh tani yang berpenghasialan 20 Ribu Rupiah.

Saat dikunjungi wartawan Mutiha menuturkan bahwa pernah ada seorang perangkat desa yang iba dan mengupayakan akan memberikan bantuan pemerintah kepada dirinya.
Tetapi, sampai sekarang belum ada kabar lagi. Muntiha mengaku sangat mengharapkan janji bantuan pemerintah dari aparat desa tersebut.

"Mugi-mugi enggal ansal nggih mas (semoga cepat segera dapat bantuan:red)," pinta Muntiha. Para tetangganya berharap, pemerintah bisa memperbaiki rumah Mutiha  yang rusak agar bisa lebih layak huni. Karena hidup sebatang kara sejak puluhan tahun.

"Semoga ada perhatian pemerintah, mas," ungkap Saman tetangga sebelah Muntiha yang merasa prihatin dengan kehidupan tetangga tersebut. Menurut saya, Mutiha itu menjadi prioritas bantuan pemerintah mengingat kehidupan janda tersebut yang benar-benar berada di bawah garis kemiskinan,” tukas Saman. (luqman/nur hasan)