Pasuruan, tribunusantara.com - Peringatan hari pahlawan setap 10 November tidak pernah terasa gemanya di kota Pasuruan ini.Dihari yang seharusnya mengagungkan heroisme pahlawannya,hanya terasa hampa,sepi,seolah dikota ini tidak memiliki pahlawan pejuang kemerdekaan yang asli arek Pasuruan.Kita harusnya iri dengan daerah lain yang mengabadikan nama pahlawan mereka dengan nama jalan, Di Lumajang misalnya, ada jalan Suhandak di pusat kota.

Dan di daerah lain banyak yang menamakan jalan dengan nama nama Pahlawan putra daerah mereka.Di kota Pasuruan, tidak ada nama jalan dengan nama nama pahlawan putra daerahnya.Teten
gerpun tidak ada.Sungguh kita ini bukanlah bangsa yang besar karena kita tidak bisa menghargai perjuangan pahlawannya.Apa benar kita tidak mempunyai pahlwan pejuang yang tangguh asli arek Pasuruan?.Yang berjuang dipalagan kota Pasuruan dan sekitarnya?. Kita punya !.Tetapi sejarah ini sengaja diabaikan,ditutup tutupi dan dihilangkan oleh penguasa orde baru.

Hanya warga Pasuruan yang sudah berumur 70an yang menyimpan legenda kota ini dalam didadanya.Pernah saat itu (era 90an) seorang wartawan Suara Pasuruan yang juga anggota ormas Pemuda Panca Marga (forum putra putri veteran 45) Sugihandowo,melaporkan hasil wawancara dengan seorang pejuang kemerdekaan dengan wilayah operasi kota Pasuruan dan sekitarnya, bapak Soediono ke pengurus harian daerah Pasuruan dengan harapan bisa menjadi referensi pembangunan tetengger perjuangan arek arek Pasuruan baik diabadikan nama jalan atau tugu peringatan. Bukti hebatnya perjuangan arek arek Pasuruan pernah ditulis budayawan kaji Karno ..(bersambung).