JAKARTA, tribunus-antara.com : Djuyoto Suntani Presiden The World Peace Committe, Sang inspirator Gong Perdamaian Dunia, Salah satu Putra Terbaik Bangsa Indonesia yang menggaungkan Perdamaian ke seluruh penjuru Dunia bersama Yayasan Satu Bangsa Bumi menyelenggarakan acara dengan Tema: Renungan Suci Hari Pahlawan, Bedah Buku Tahun 2015 Indonesia "Pecah" Mari Bersatu Untuk Kejayaan Nusantara Raya. Di Gedung Joeang 45 Jakarta. (Kamis, 17/11/2016)

Dalam acara tersebut di hadiri Ratusan peserta dari berbagai kalangan mulai darti Tokoh Masyarakat, Aktifis, budayawan, politikus, dan juga nampak hadir dalam acara tersebut Ketua Umum DPP AWPI (Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia) Ir. Nadiyanto, MM Beserta jajaran Pengurusnya.

Diskusi publik ikut menghangatkan suasana Dalam Renungan Suci Hari Pahlawan. menghadirkan pembicara: Adhyaksa Dault  (Menpora RI 2004-2009) dan Tokoh Pemuda sekaligus Pengamat Politik Ray Rangkuti.

Dalam do'a renungan yang dipimpin oleh KH.Aminnudin, merefleksikan perjuangan para pahlawan, merenungkan perjalanan NKRI dari kejayaan era kerajaan sampai kemerdekaan hingga saat ini, perjalanan yang cukup panjang yang sangat perlu untuk direnungkan bersama, untuk mengenang dan mendoakan para pahlawan dan mencontoh semangat perjuangan, dalam renungan suci hari pahlawan. Paparnya dalam do'a.

Dalam acara tersebut sebagai Keynote Speaker President The World Peace Committe 202 Negara Djuyoto Suntani, dalam sambutanya menjelaskan; tujuh strategi dunia untuk menghancurkan Indonesia, yaitu memperlemah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menghapus ideologi Pancasila, menempatkan uang sebagi dewa, menghapus rasa cinta tanah air, menciptakan sistem multi partai, menumbuhkan sekulerisme dan membentuk tata dunia baru.

Djuyoto Suntani menjelaskan “Pecah disini ada dua artinya, pecah yang pertama mirip pecah ketuban atau pecah telur, kalau telur itu pecah, lahirlah itik, lahirlah kehidupanm baru. Sama, ketika ketuban itu pecah, lahirlah seorang bayi, lahirlah kehidupan baru. Pecah itu maknanya sangat luas, bukan pecah berantakan,” papar Djuyoto Suntani.

Di hadapan ratusan peserta diskusi sekaligus Bedah Buku “Tahun 2015 Indonesia “Pecah”, Presiden World Peace Committee (WPC) Djuyoto Suntani menyampaikan rencana pembangunan Istana Negara untuk kantor sekaligus tempat tinggal Presiden Republik Indonesia.

Menurut Djuyoto Suntani, sebagai bangsa yang besar dan sudah berusia 71 tahun, sangat tidak pantas jika Presiden NKRI berkantor dan tinggal di bangunan tua bekas peninggalan penjajah Belanda.

Istana negara Republik Indonesia saat ini merupakan gedung tua peninggalan Belanda. Jika Presiden RI tetap berkantor di Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, menurut Djuyoto Suntani, pemerintah mindset-nya akan tetap mindset inlander.

Untuk itu kami bersama teman-teman mendirikan “Yayasan Bangun Istana Negara”. Kami akan menyiapkan istana Negara untuk Presiden RI yang berwibawa yang berkonsep Nusantara," Tegas President The World Peace Committe 202 Negara Djuyoto Suntani. Kamis (17/11/2016)

Acara Renungan Suci Hari Pahlawan dan Diskusi ditutup dengan Pemukulan Gong Perdamaian Dunia Oleh Djuyoto Suntani dan Beberapa Tokoh, dilanjutkan foto bersama. Kamis (17/11/2016)


Hak Jawab / Hak Koreksi:
call / SMS / WhatsApps:
082233590005 / 081357848782
Email: tribunusantara@gmail.com

PASURUAN

[Pasuruan][fbig1][#e74c3c]

Nasional

[Nasional][fbig1][#e74c3c]
Diberdayakan oleh Blogger.