Ketika Jepang kalah perang para pejuang Indonesia melucuti senjata tentara Jepang, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta dan mendarat di Surabaya pada 25 Oktober mereka pura-pura ikut membantu melucuti tentara Jepang.  Atas nama Sekutu, Tentara Inggris ingin mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) membonceng dalam pasukan tersebut.

Tahu niat jahat tentara Inggris dan NICA, maka pecahlah insiden Bendera 19 September 1945 di Hotel Yamato atau Hotel Orange (sekarang Hotel Mandarin Oriental Majapahit) Surabaya. Rakyat Surabaya dibakar amarah saat melihat bendera merah putih biru milik Belanda kembali dikibarkan di atas menara hotel. Pemuda Suroboyo naik ke atas menara lalu merobek kain biru bender  sehigga menjadi MERAH PUTIH.

Pekik Allohuakbar dan Merdeka !! menggema di kota Surabaya, Sang saka merah putih kembali berkibar, namun 4 pemuda kusuma bangsa. 4 pemuda pemberani itu Cak Sidik, Mulyadi, Hariono dan Mulyono. Tak terima pemuda Surabaya mengamuk ke tentara Inggris penembak. Ploegman tewas terbunuh oleh amukan massa ditusuk senjata tajam. Bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan Inggris dengan para pejuang di Surabaya memuncak dengan tewasnya Brigadir Jenderal AWS Mallaby (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945.

Brigadir Jenderal Mallaby tewas, penggantinya Mayor Jenderal Mansergh ancam  mengeluarkan ultimatum pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan  meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum ditolak mentah-mentah. Pidato-pidato heroik Bung Tomo (Soetomo) adalah salah satu biangnya. Melalui stasiun Radio Pemberontak Indonesia di Surabaya, Bung Tomo mengobarkan semangat jihad dan perjuangan rakyat. Takbir dan slogan ”Merdeka Atau Mati” dari Bung Tomo membakar 45.000 pejuang tersentak bangkit. Gubernur Suryo (gubernur Surabaya saat itu) rakyat Surabaya memilih berjuang hingga titik darah penghabisan, walau Bondo Nekat  !!!

Tentara Sekutu, Inggris dan NICA 10 November 1945 pagi mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang, membombardir dan menghancurkan kantong pertahanan para pejuang syuhada'Arek-arek Suroboyo. Jam 6.10, Surabaya menjadi lautan api. Musuh menduga perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja. Persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja. Mereka membumi hanguskan Surabaya.

Sekutu meleset, perlawanan berlangsung dan bertahan hingga berbulan-bulan. Arek suroboyo tak bisa ditaklukan. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Pemandangan tanggal 30 November 1945, sepanjang mata memandang, bergelimpangan mayat terbujur kaku, hangus, serpihan daging dari 30.000 orang. Para pejuang rela setor nyawa berjibaku mempertahankan kehormatan tanah airnya