Pasuruan, Tribunusantara.com  - Pabrik pembuatan pupuk tanaman di Dusun Jiteng, Desa Tebas, Kecamatan Gondang Wetan, Kabupaten Pasuruan meresahkan masyarakat sekitar. Pasalnya bau busuk menyengat sangat menganggu warga. Utamanya pada malam hari. Bau yang dirasakan tidak saja menyesakkan dada, tapi juga membuat perut mual-mual.

Warga yang sangat terganggu selain warga Tebas paling parah dirasakan oleh penduduk Desa Pohgading, Kecamatan Pasrepan. Lokasi desa ini berada di sebelah selatan. Kedua desa saling bertetangga. Dan kedua desa sama-sama batas antar kecamatan. Bau pengelolaan pabrik ini sebenarnya dirasakan sudah belasan tahun. Berkali-kali warga d
wadul, baik langsung kepada pabrik maupun kepada pemerintah desa dan kecamatan. Tapi nyatanya sampai sekarang tidak ada tindak lanjut sama sekali.

Pabrik milik Rudi, warga Perum Sekar Gadung, Kota Pasuruan tersebut letaknya sekitaran rumah penduduk. Penyebaran bau busuk tergantung arah angin. Kalau angin sedang mengarah selatan, sudah jelas mengotori udara yang mengarah kepada rumah-rumah penduduk yang ada di bagian selatan pabrik. Sebaliknya jika arah angin ke utara, otomatis yang kena semburan bau limbah pengelolaan pabrik adalah warga yang ada di sebelah utara.

“Kalau malam hari baunya sangat menusuk hidung dan menyesakkan dada. Rumah saya sekarang jendela-jendelanya saya tutupi semuanya, Pak. Sebab kalau tidak begitu, meski sudah tidur pasti bangun karena tidak mampu menahan bau busuk pabrik. Sejak itu kami protes kepada pihak desa supaya ditutup pabriknya. Faktanya sampai sekarang tidak ada tindak lanjutnya,” ungkap warga Desa Pohgading kepada koran ini.

Pantauan wartawan media ini di lapangan menyebutkan. Siang tadi pabrik dalam keadaan tutup. Pintu utama pabrik tertutup rapat. Pagar besi warna hijau yang membentang timur ke barat ukuran kira-kira 20 meter kondisinya terkunci dari dalam. Teriakan wartawan untuk ijin masuk, hingga setengah jam lebih tidak ada yang merespon atau menjawab. Akhirnya wartawan media ini kembali pulang.

Namun sebelum itu, wartawan sempat mengambil gambar dari balik lubang kunci gembok. Disitu terlihat kalau pabrik pupuk ini berukuran cukup besar. Paling belakang seakan sebagai tempat pengelolaan. Paling depan sebelah timur diketahui  tempat bahan baku pembuatan pupuk tertumpuk dan seakan dibiarkan berserakan. Tumpukan bahan baku ini dijadikan satu dengan ruangan tempat pengelolaan. Sementara di dalam pabrik terlihat disisi kanan tumpukan sak berisi bahan baku. Demikian pula dengan tumpukan sak yang ada di sisi kiri. Di sela-sela tumpukan-tumpukan sak tadi didapati bekas tetes berserakan hingga merendam sak-sak tersebut.

Yang dimungkinkan berbau, adalah limbah yang terbuang begitu saja. Sedang diluar tembok gudang atau pabrik adalah tanah pertanian warga yang biasa ditanami padi dan palawija. Pengakuan warga, sejak adanya pabrik ini lambat laut para petani tidak menanam padi. Alasannya karena padi dan jagung sudah sulit untuk hidup. Tanah sudah pertanian warga sudah tercemari limbah tersebut. Belakangan ini para petani sudah beralih profesi. Sekarang banyak warga yang menjadikan tanah pertaniannya sebagai tempat pembuatan batu bata.

Menanggapi ini, Kades Tebas, Muadin, mengatakan kalau sejak dirinya menggantikan Kades lama, Mustain, dirinya tidak pernah tahu kalau ada pabrik pupuk. Warga sendiri belum pernah wadul kepada dirinya kaitan dengan bau busuk akibat limbahnya. Muadin mengakui kalau pabrik ini belum diketahui apakah sudah mengantongi ijin atau belum memiliki ijin. Oleh karenanya, dalam waktu dekat dirinya akan melakukan pengecekan.   (nugroho&kadir)



Posting Komentar