TRIBUNUS-ANTARA.COM | PASURUAN, Jauh panggang dari api keinginan Keluarga korban Perkosaan siswi SDLB Winongan ini. Tak hanya keluarga korban yang geram dengan penanganan Unit PPA Polres Pasuruan, namun juga warga masyarakat yang mengikuti perkembangan dari kasus tersebut. Lambat alias lemot tak jelas jeluntrungnya ke mana.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, petugas penyidik PPA mengatakan bahwa pemanggilan saksi Kepala Desa Winongan tidak bisa dilakukan karena terbentur oleh Hasil Visum yang belum diterima Polisi.

"Kades Winongan Kidul nanti akan kita panggil,mas" ucap Suntoro, namun nunggu Hasil Visum dulu, karena Visum belum kita terima. (Senin 13/02 lalu) Dan, (Dita) petugas dari Dinas Sosial pun, saat dihubungi tribunus-antara.com, akhirnya saling menyalahkan terkait 'raib'nya Visum korban kasus pencabulan tersebut.

Dr Gozali humas RSUD Bangil saat dihubungi oleh Dinas Sosial mengatakan melalui selulernya, Jumaat 18/02 bahwa pihak RSUD Bangil masih mencari informasi terkait hasil visum itu  tanggal berapa dan hari apa dilakukan, karena baik Polisi, Dinas Sosial dan RSUD Bangil semuanya tidak mengetahui jelas hal ihwal Hasil Visum kasus pencabulan anak cacat tuna grahita SDLB Winongan tersebut. Menurut Dita, Hasil Visum korban Pencabulan Siswi SDLB itu 'ketelisut'

Erwin guru SDLB Winongan di mana korban sekolah yang sekaligus menjadi saksi pencabulan terhadap siswinya protes keras terhadap kedua petugas PPA Polres Pasuruan. Dihubungi melalui handphone, Erwin geram dengan kinerja POLRES PASURUAN. Dengan nada tinggi Erwin mengungkapkan permasalahanya kepada wartawantribunus-antara.com

"Pak Suntoro bilang kalau kasusnya lamban karena Visumnya belum diambil," ujar Erwin Jumat 17/02. Nah, saat saya tilpun Aiptu Jupri (penyidik PPA) mengatakan bahwa perkaranya lamban karena Pelakunya saat ini sudah kabur. Penanganan perkara yang menimbulkan banyak Pertanyaan warga.

"Ini apa?? Sama-sama petugas Negara yang melayani masyarakat kenapa kok begitu, terkesan kerja seenaknya dan sangat tidak profesional," imbuh Erwin ibu guru SDLB yang mengaku pernah diteror namun tetap tidak takut atau gentar demi memperjuangkan nasib dari anak didiknya tersebut.

liputan   : tim tribunus
editor    : nugroho tatag




Hak Jawab / Hak Koreksi:
call / SMS / WhatsApps:
082233590005 / 081357848782
Email: tribunusantara@gmail.com

PASURUAN

[Pasuruan][fbig1][#e74c3c]

Nasional

[Nasional][fbig1][#e74c3c]
Diberdayakan oleh Blogger.