www.tribunus-antara.com, Alkisah, di jaman dulu kala di daerah yang saat ini dinamakan Kecamatan Grati tersebutlah kehidupan ma
syarakatnya yang hidup kaya raya, tak satu satupun warga dari 7 desa tersebut yang hidup susah. Emas perak serta baju yang mahal dimiliki seluruh masyarakat kala itu, namun sayangnya kekayaan telah melupakan rasa syukur dan semakin menjauhkan kehidupan masyarakat kepada Tuhan. Tak hanya sombong, masyarakat Grati kala itu penuh dengan kemaksiatan, judi dan mabuk-mabukan. Gelimang harta benda ternyata membuat buta mata hati mereka.

Entah datang dari mana, tiba-tiba datang seorang anak kecil berusia sekitar  tahunan berjalan di ujung desa. Anak berjalan lemas dengan membawa tongkat kayu kecil untuk membantu menyanggah dia berjalan. Selain sakit pada kulit menjijikan di lengan kaki dan hampir di sekujur tubuh, bau anyir tercium manakala seseorang berpapasan dengannya. Sungguh pemandangan yang kontras dengan penampilan warga setempat.

Lapar dan haus tak juga hilang karena tak seorang warga pun yang mau memberikan air atau makanan kepada anak tersebut. Jangankan memberi sisa makanan, warga yang melihat semua menutup hidung, bahkan banyak juga yang meludah karena jijik melihat anak tersebut, Sering pula warga yang jijik mengusirnya dengan bilah bambu atau batang kayu,ada juga yang memukulnya.

Hingga seorang janda tua di pinggiran desa bersedia menolongnya. Diberinya air dan makanan si anak oleh janda yang kerja menumbuk padi dengan lumpang yang berada di depan rumah sang janda tua. Si anak dibawanya pulang ke rumahnya yaitu sebuah gubuk renta di ujung desa. Setelah istirahat sejenak si anak lalu pergi lagi ke desa mencari bantuan untuk menyembuhkan luka dan penyakit yang dideritanya.

Hingga suatu ketika si anak pulang ke rumah Janda tua renta lalu berkata lirih " Bu , tolong ibu nanti jangan keluar rumah," kata si anak kepada ibu tua yang sedang menumbuk padi di lumpang di depan rumahnya. "Ibu naik aja ke lumpang milik ibu itu, dan jangan turun dari lumpang itu sampai keadaan aman," katanya .

Setelah berpesan kepada janda tua, si anak lalu pergi mendatangi warga desa yang saat itu tengah berpesta pora dan minum-minuman keras. Si anak mendekat lalu bersuara lantang sambil menancapkan tongkatnya di tanah, " Ayo, siapa diantara kalian yang mampu mencabut tongkat saya!! Orang-orang hanya melihat sejenak lalu tertawa. Si anak lalu membentak lagi, " Ayo siapa diantara kalian yang kuat mencabut tongkat ini," serunya.

Warga maju satu per satu , namun tak seeorang pun yang mampu mencabutnya, lalu si anak mencabut tongkat kecil tadi dan tersemburlah air dari bekas lubang tongkat di tanah, air semakin besar dan membesar hingga menenggelamkan seluruh warga di 7 desa tersebut. Hanya seorang yang selamat dari 'banjir besar' yaitu ibu janda tua yang naik lumpang sesuai pesan si anak.

Makam ibu janda tua itu hingga saat ini masih ada di sekitaran danau Ranu Grati kabupaten Pasuruan. Pemerintah daerah setempat pernah meneliti kebenaran dari kisah legenda Danau Ranu Grati namun banyak jatuh korban. Sekitar tahun 1970 sekelompok orang yang menyelam untuk memotret dasar Ranu, namun tidak pernah muncul lagi, hingga seorang sesepuh bernama Kyai Junaedi membantu untuk menolong. Kyai Junaedi menyelam lalu mengangkat jenazah para penyelam, hasil pemotretan setelah dicuci cetak menunjukan kampung-kampung di dasar danau ranu tersebut.

Posting Komentar