Pasuruan | Tribunus-antara.com,  Tidak disangka ternyata Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) kelas II B Kota Pasuruan sudah 1 tahunan telah mendirikan pondok pesantren. Pondok ini bukan seperti pondok pesantren atau lembaga pendidikan lainnya yang diluar Lapas. Ada bangunan besar dan halaman luas, lalu ustadz-ustadz banyak serta ada ratusan atau bahkan ribuan santrinya. Tapi Ponpes di Lapas ini hanya memiliki ruangan kecil dan ada mesjid juga tidak besar, serta jumlah santri hanya puluhan orang saja.

Bukan soal besar dan kecilnya bangunan pondok atau banyaknya santri yang ditonjolkan. Diakui oleh Kepala Lapas Kota Pasuruan, Sri Y, bahwa keberadaan Ponpes di dalam Lapas yang dipimpinnya memiliki manfaat yang jauh lebih besar dan sangat berarti. Perjuangan untuk membesarkan gaungnya Ponpes itulah yang dinilai sangat memiliki arti tersendiri. Kata Kalapas, awalnya jumlah santri hanya 20 orang warga binaan. Sekarang jumlahnya terus berkembang.

"Alhamdulillah, santri yang diwisuda dari angkatan 1 jumlahnya 20. Sedang santri yang dikukuhkan jumlahnya meningkat menjadi 30 orang. Artinya, jumlah santri terus bertambah. Dengan tambahnya warga binaan yang nyantri berarti kemauan warga binaan untuk merubah diri sangat tinggi walau melalui getok tular. Mudah-mudahan ke depannya nanti semakin berkembang dan jumlah santri terus bertambah," ungkap Kalapas Kelas II B Kota Pasuruan.

Para santri meski mendapatkan waktu belajar dengan waktu terbatas, namun yang dihasilkan
mampu bersaing dengan ponpes atau pendidikan yang ada di luar Lapas. Ini dibuktikan dengan berbagai pertanyaan dan tampilan yang diperagakan oleh para santri kepada pejabat Muspida Kota Pasuruan dan Muspika Purworejo. "Alhamdulillah santri jebolan Ponpes Lapas ini tidak kalah dengan santri atau murid yang ada di dunia pendidikan yang ada di luar Lapas. Mulai dari membaca tajuid hingga membaca kitab-kitab," ujar Ustadz Khumaidi, Pengasuh Ponpes Darut Taubah Lapas II B Kota Pasuruan di dampingi Kepala Lapas Sri Y.

Diakui Kalapas, untuk memasukkan warga binaan agar menjadi santri tidak bisa dilakukan dengan cara paksaan. Kalau nyantri dilakukan dengan cara seperti itu tidak akan mampu menyadarkan mereka. Oleh karenanya, untuk bisa menjadi santri pihaknya menggunakan cara-cara pembinaan rohani secara pelan-pelan. Sehingga kalau pun nantinya mereka masuk menjadi santri benar-benar datang dari kesadaraannya. Diakhir acara, Kapolresta AKBP Rizal Martomo menyerahkan hadiah bagi warga binaan yang berprestasi bersama Kalapas serta pejabat Muspida serta Muspika lainnya. (kadir zaelani)

Posting Komentar