BANGKALAN - Di tengah menjalankan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-98, anggota TNI bersama warga Desa Bragang, Kecamatan Klampis, Bangkalan, Madura, bersantai bersama.
Mereka  melepas penat setelah  beraktivitas dalam pengerjaan program-program TMMD. Suasana akrab prajurit dan warga tampak tak hanya saat bekerja, namun di sela sore disempatkan pergi memancing ikan ke sungai. Tak itu saja, mereka juga bersama-sama berburu biawak ke kawasan perbukitan di malam hari. "Biawak dibuat sate dan dimakan bersama," kata Komandan Koramil Klampis, Kapten Kav Handre Tjahjo.

Sebelum digelar TMMD, kesan seram dan perasan grogi, canggung menyeruak di benak masyarakat setempat karena 150 prajurit sejak 5 April hingga 5 Mei 2017 akan berada di kampung mereka.
150 tentara yang terdiri dari Batalyon Artileri Pertahanan Udara (63 personel), Pasukan Marinir (30 personel), Kodim 0829 (15 personel), Polri (10 personel), Zipur (10 personel), Bintal (2 personel), Kesrem (3 personel), dan Penrem (2 personel).

Namun, setelah beberapa hari bersama dan tinggal di 22 rumah penduduk, warga malah berat berpisah setelah siang malam bekerja dan berkumpul bersama. Seperti ungkapan Jawa "Witing Tresno Jalaran Soko Kulino" yang Cinta tumbuh karena terbiasa rasanya tepat menggambarkan keadaan tersebut.

"Warga sudah terbiasa bertemu dan beraktivitas dan perlahan merasa kagum," ungkapnya.  Bersama tentara, warga bahu-membahu dalam membangun 3 unit MCK, mengaspal jalan kampung sepanjang 2,425 kilometer dengan luas 2,5 meter, mendirikan tembok penahan jalan sepanjang 15 meter, mendirikan satu unit buk pinggir jalan, membangun 25 unit jamban warga, pavingisasi halaman masjid seluas 550 meter persegi, hingga pembuatan tiga unit pos kamling.

Selain itu, keakraban antara warga dan tentara semakin bersemi saat aktif dalam penyuluhan bencana dan wawasan kebangsaan, penyuluhan kesehatan dan sanitasi, penyuluhan undang - undang perkawinan, penyuluhan pertanian dan peternakan, penyuluhan bahaya narkoba, pengobatan gratis, pelayanan KB, dan penyuluhan keamanan lingkungan.

Kepala Desa Bragang Busiri mengungkapkan, hubungan antara warga dan para tentara awalnya berjalan kaku karena terbayang sosok seram dan tegas dari para tentara.
Maklum, selama ini jarang ada tentara berkunjung, apalagi hingga menginap selama 30 hari.

"Ya takut karena tidak pernah ada tamu tentara. Tapi setelah berbaur beberapa hari, warga senang dan kagum. Apalagi, para tentara masih muda - muda, fisiknya kuat," ungkap Busiri.
Keakraban para tentara dan warga tergambar dari kegiatan di luar pengerjaan program TMMD. Seperti pergi memancing ke sungai di sore hari selepas mereka lelah beraktivitas bersama.


"Ikan - ikan hasil memancing dimasak dan dimakan bersama saat malam. Selepas itu bercengkrama dengan suguhan hasil bumi seperti singkong, ketela, dan kacang," katanya. Warga pemilik rumah yang ditempati para tentara bahkan akan menggelar acara perpisahan untuk melepas para tentara kembali ke masing-masing kesatuan dan keluarga mereka.

"Nantinya akan disiapkan acara khusus di setiap rumah yang ditempati tentara. Selain itu, pelaksanaan TMMD nanti juga akan ditutup dengan tasyakuran," paparnya.

Sementara itu, berdasarkan laporan hingga Kamis (4/5/2017) atau hari ke-29 TMMD, pembangunan fisik berupa pengaspalan jalan sudah mencapai 100 persen, satu unit buk 100 persen, 25 jamban 100 persen, dan pekerjaan keramik untuk dua kelas madrasah berjalan 100 persen. Pembuatan tembok penahan jalan, empat unit gorong-gorong, tiga MCK, pavingisasi halaman masjid seluas 550 meter persegi, tiga pos kamling, dan penghijauan 2.150 bibit sudah mencapai 100 persen.

Sedangkan, dari sembilan sasaran non fisik, delapan di antaranya sudah 100 persen terlaksana atau tinggal pelaksanaan pengamanan lingkungan. Salah satu sasaran program TMMD memang untuk lebih mendekatkan tentara kepada masyarakat sebagaimana jati diri TNI sebagai Tentara Rakyat yang harus maju dan berkembang bersama rakyat, sesuai dengan Doktrin Sitem Pertahanan Semesta (Sishanta).

Selama 30 hari, para tentara menginap dan makan di rumah warga dan uang makan milik tentara diberikan ke pemilik rumah. Pemilihan Desa Bragang sebagai sasaran TMMD kali ini tak lepas dari hasil usulan dengan mekanisme "Buttom Up Planning" atau usulan berangkat dari tingkat desa yang dibahas dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa untuk diajukan ke tingkat kecamatan dan diteruskan ke tingkat kabupaten/kota.

Selanjutnya, dipertimbangkan sasaran yang paling cocok dengan kriteria menyangkut kepentingan hidup dan bisa langsung dirasakan manfaatnya bagi masyarakat, terutama di daerah pedalaman dan terpencil yang sulit terjangkau pembangunan. Desa Bragang sendiri berlokasi di kawasan perbukitan dengan jarak sekitar 35 kilometer ke utara Kota Bangkalan.

Dengan kondisi wilayah seperti itu, desa dengan jumlah populasi sebanyak 3.000 penduduk itu kekurangan air bersih, fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Data kepela desa setempat, dari seratus rumah, sekitar tiga rumah yang punya sumur. Sementara WC, dari sepuluh rumah, hanya satu rumah yang memiliki.

Untuk buang air besar, warga sudah terbiasa menumpang di rumah tetangga.  Selain pergi ke sungai, warga bisa memanfaatkan embung seluas sekitar 2000 meter persegi untuk keperluan mencuci. Embung tadah hujan hasil bantuan pemerintah pusat di tahun 1993 itu nyaris tidak pernah surut.

penulis    :  Letkol Inf Sunardi Istanto SH
foto        :  penerangan kodam
editor     :  Nugroho Tatag Yuwono

Posting Komentar