KEDIRI - Naas benar nasib orang tua yang tinggal di Kediri kecamatan Kandat ini, Hanya gara-gara tidak sanggup membayar uang LKS dan amal jariyah, seorang pelajar kelas 1,, MTs Negeri 1 Kandat kab.Kediri terancam gagal mengikuti ujian kenaikan kelas.

Ramidi ayah dari pelajar dari keluarga kurang mampu ini terpaksa menandatangani surat keterangan DO/Drop Out atas pertimbangan kondisi keuangan. Bayu Wahyudi Pratama, pelajar siswa kelas 1 MTsN 1 Kandat yang berada di Jl.Marabunta desa Balong kec.Ringinrejo kab.Kediri. Sejak Kamis kemarin, sudah tak bersekolah meskipun ia tercatat dalam KIP/Kartu Indonesia Pintar.

Orang tuanya terpaksa menandatangani surat pengunduran diri anaknya karena tak sanggup membayar iuran sebesar Rp 1,650 juta. Iuran itu terdiri dari pembelian buku LKS semester satu Rp 486 ribu, dan semester Rp 545 ribu dan amal jariyah Rp 600 ribu. Iuran sekolah ini bersifat wajib bagi setiap pelajar sebagai syarat mengikuti ujian kenaikan kelas, pada Senin besok.

Siswa yang tidak mampu melunasi iuran sebelum pelaksanaan ujian, maka sekolah tidak akan memberikan kartu ujian. Artinya mereka terpaksa tinggal kelas. "Kalau tidak bisa bayar tidak dapat kartu ujian dan tidak boleh ikut ujian," kata Bayu.

Di sekolah MTsN Kandat, Bayu tercatat sebagi pelajar kurang mampu yang memegang kartu indonesia pintar (KIP). Namun, pada semester dua ini, bantuan siswa miskin (BSM) yang mestinya dapat ia gunakan untuk meringankan pembayaran biaya iuran tersebut justru tidak dapat dicairkan.

"BSM yang semester satu dulu bisa cair Rp 400 ribu, tapi sudah habis untuk bayar seragam sekolah. Tapi semester dua ini tidak dicairkan. Teman-teman dipanggil untuk pencairan, tapi saya tidak," kata Bayu.

Keputusan berat terpaksa diambil Ramidi, ayah Bayu untuk menandatangani surat pengunduran diri buah hatinya karena masalah ekonomi. Beban hidup setelah bercerai dengan istrinya dan terusir dari rumah, membuat pria 43 tahun ini hanya menggantungkan hidup dari berjualan pentol keliling. Bahkan, kini mereka hanya bisa tinggal di sebuah rumah kontrakan di dsn.Ringinjejer ds.Ringinanyar kec.Pongok kab.Blitar.

"Kalau anaknya masih ingin sekolah. Tapi saya tidak bisa berbuat banyak, karena memang tidak ada dana untuk bayar itu. Ini saja kami masih kontrak rumah satu tahun Rp 1,1 juta. Penghasilan sehari-hari dari jualan pentol cilot,,hanya cukup untuk makan saja," ucap Ramidi.

Pihak sekolah MTsN 1 Kandat belum bisa memberikan keterangan perihal nasib salah satu siswanya dengan alasan kepala sekolah tidak ada di tempat. Adi, selaku Waka Kurikulum, mengatakan, akan segera melapor kepada kepala sekolah dan dewan guru untuk membahasnya.

Sementara itu, kini Bayu hanya bisa berharap ada kebijaksanakan dari pihak sekolah berupa keringanan biaya atau pembayaran sistem mengangsur agar ia bisa bersekolah lagi dan mengikuti ujian, besok Senin. (tag/har/siin)

Posting Komentar

  1. Ya allah...kok tega klo cm gara2 uang LKS dan amal jariyah tdk bisa dibayar hrs tdk boleh ikut ujian...hemmm..mengenaskan klo berita itu bener...

    BalasHapus