KEDIRI - Lagi, Komunitas 'KAMISAN' Pare ini menggelar Aksi Kamisan di  jalan Pertiga Garuda Pelem depan RSUD Pare Kediri  menunjukkan aksi  kepada para pengguna jalan agar masyarakat  mengingat kembali tragedi HAM yang terlupakan.

Aksi Kamisan tersebut bukan aksi demonstran akan tetapi aksi tersebut refleksi terhadap ingatan tragedi kemanusiaan yang sampai detik ini belum tuntas dan seakan akan negara memaksa regenerasi untuk melupakan sejarah gelap negara ini,"terang Dedyansah SH kepada media ini.

"Sebut saja tragedi kemanusiaan yang dilupakan oleh negara ,seperti Marsinah, Munir, Wiji thukul, dan Salim kancil," lanjut Dedyansyah.  Dan sejarah Kamisan sendiri berawal dari kasus almarhumah WAWA pada tragedi Semanggi. Ketika ibu beliau ( wawa) menanyakan kasus anaknya yang tidak pernah selesai, sehingga ibu almarhumah WAWA bertekad untuk mencari keadilan dengan mendatangi setiap hari Kamis di depan  Istana dengan payung hitam seorang diri," lanjut Dedy.

Berangkat dari peristiwa itu hampir semua aktivitas HAM di Indonesia mengangkat kasus tersebut seperti yang di gelar aksi Kamisan yang dilaksanakan  di Pertigaan Garuda Pare Kediri, dan Kamisan itu sendiri hanya sebagai aksi refleksi merawat ingatan dan menolak lupa. "

Ini bukan demonstran mas," kata Deddy. Melaikan refleksi sebagai bentuk sikap kami nenyuarakan persoalan Hak Asasi Manusia/HAM yang terlupakan dan sampai detik ini belum pernah terselesaikan. (harry)


Hak Jawab / Hak Koreksi:
call / SMS / WhatsApps:
082233590005 / 081357848782
Email: tribunusantara@gmail.com

PASURUAN

[Pasuruan][fbig1][#e74c3c]

Nasional

[Nasional][fbig1][#e74c3c]
Diberdayakan oleh Blogger.