KIDIRI -  Pameran benda-benda di masa lampau berbentuk keris ,dipertunjukkan dihadapan publik lewat “Gugat Panjalu”, dan bila ditilik dari Panjalu sendiri,  dikenal sebagai kerajaan era Prabu Jayabaya, setelah kahuripan dipecah menjadi dua, yaitu  jenggala dan panjalu. Prabu Jayabaya kembali menyatukan Jenggala Panjalu itu menjadi Panjalu yang dikenal dengan Panjalu Jayati artinya Kediri Menang ,sebagaimana termuat dalam prasasti Hantang. Pameran yang berlangsung Kediri Town Square ini dihadiri Walikota Kediri, Abdullah Abubakar, Letkol Arm Joko Setiyo K, M.Si (Han), Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi, Sekjen Senopati Nusantara ,Nur Jiyanto dan Ketua Paguyuban Tosan Aji dan Keris Joyoboyo, Imam Mubarok, sabtu (19/08)

 “Keris bukan hal mistik, tapi keris adalah wujud dari kemajuan teknologi yang sudah di dalami oleh para empu pada jamannya dahulu. Pemkot juga mendorong generasi penerus harus tahu bahwa kita punya senjata pamungkas dengan nama keris yang pernah dipakai para pahlawan. Ini warisan budaya nenek moyang yang harus di lestarikan,” jelas Abdullah Abubakar.

Sementara itu, menurut orang nomor satu dibalai Kota Kediri ini, pameran ini berasal dari inisiatif para pecinta keris di Kota Kediri dengan menggandeng Pemkot kediri untuk memperingati hari jadi Kota Kediri. Keris sebagai budaya asli Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia non benda pada 2005 silam.
Ketua paguyuban tosan aji dan keris joyoboyo Imam Mubarok atau yang akrab disapa Gus Barok mengatakan kenapa mengangkat tema "Gugat Jenggala" dengan harapan kedepannya keris-keris dari Kediri bisa lestari.

 “Saya bersama kawan-kawan perkerisan ingin pameran ini bisa memperkuat ekonomi kerakyatan. Harapannya kedepan akan ada setidaknya 1 keris di setiap rumah. Ini bukan tentang syirik atau musrik, ini adalah warisan dunia yang harus kita lestarikan,” kata Gus Barok.

Posting Komentar